Sunday, February 19, 2012

Sosok Langka: Ir. Soetami

Saya "kenal" dengan Ir. Sutami, menteri PU, karena pernah nyaalami waktu wisuda gara-gara dianggap top-of-the-class di Pasca Sarjana Jalan Raya pertama, pakai logat Jawatimur (tahu aku arek Malang): "Kon iku pinter temen, Rek!" .. yang menarik, waktu lulus SMA, kejadiannya dan ucapannya juga sama, cuma yang nyalami waktu itu kepala PU Malang/Jatim. (Ironinya aku tidak pernah tertarik untuk bekerja di PU :-)

Menteri Sutami itu merupakan sosok yang paling jujur yang pernah saya kenal. 
 
Hidupnya juga sak madya, sederhana. (Tidak heran kalau asalnya dari Solo :-) Kalau dibanding pejabat PU jaman sekarang, termasuk yang ecek-ecek ... bumi-langit perbedaannya. Sayang sekali hampir tidak ada yang mengangkat tulisan tentang sosok seperti Sutami ini. 
 
Kita butuh "real hero" yang bisa dijadikan contoh, role model oleh anak-anak generasi muda kita.

Moko/

++++

Banjiri Anak2 Kita dengan Buku2



Sudah tiga minggu ini saya "ngoprek" koleksi picture-books dari Persia/Iran (dalam bahasa Farsi), mumpung ada teman lama (di US) dalam urusan digitasi buku yang memberi akses pada hasil kerjaan group-project dia, special-collection picture books dari penerbit terbesar di Iran. [Barangkali satu saat bakal aksesibel via Internet, tetapi saat ini aku boleh "ngintip duluan" (sneak peek). Karena aku nggak ikutan dapat ijin lisensinya, hasilnya tidak dapat aku distribusikan atau dipasang di website -- menurut fair-use, kritik, studi dan pembahasan di kelas masih okay.]

Dunia buku anak di Iran ini merupakan fenomena (atau anomali) yang sangat menarik, bisa jadi inspirasi untuk belasan doctor thesis. Koleksi ini archive dari penerbit, dalam rentang 30 tahun, lebih dari 12.000+ halaman, hi-res images -- yang selama 3 minggu ini saya download, halaman demi halaman. Koleksi (yang memenuhi kriteria saya) terdiri dari 326 picture-books, dan dari jumlah tersebut 271 mendapat award atau nominasi internasional (negeri Iran/Persia memborong awards jauh lebih banyak dari negara manapun di dunia). 
Selanjutnya, dalam 3-4 minggu mendatang, pekerjaan yang harus dilakukan adalah "menjahit" halaman-halaman menjadi buku (pdf), dan kemudian proses klasifikasi dan  kompilasi menjadi digital-library supaya lebih mudah diakses dan dipelajari. 
Sebagian kecil yang sudah selesai saya tunjukkan didepan kelas design Senirupa-ITB 2 minggu yang lalu, yang hadir termasuk dosennya cuma bisa kemekmek terlongong-longong ... [if I'm allowed to say 'I told you so' ... you guys have to go out there more frequently ... biar nggak kuper].

Genre picture-book ini sebetulnya bukan tujuan utama dari riset saya, tetapi begitu sudah memulai sesuatu saya ini selalu "to deeply go where no one has gone before" [dengan kebandelan yang hanya bisa disaingi oleh Mbah Marijan]. Dan setelah bergumul dengan koleksi special ini (saya yakin di Indonesia belum pernah ada yang melihat ini kecuali "sneak preview" di kelas Senirupa-ITB itu), saya bener-bener memahami apa artinya ilustrasi buku yang baik itu. Dan kalau ini membantu proses menanamkan kecintaan baca bagi anak-anak ... well, it deserves very special attention.

[ Catatan: Ada ujar-ujar Mexico/Spanish yang sangat mengena dalam soal ini: Una pintura es un poema sin palabras ... a painting/picture is a poem without words. Ini kelihatan dari wajah anak-anak desa Cijengkol yang setiap hari Minggu berkumpul membentuk kelas ditengah sawah (aktivitas murid saya yang nomor 2). Umur mereka antara 3-9 tahun, rentang usia dalam target riset saya. Yang belum bisa baca, saya minta untuk "membaca gambarnya saja" ... And it works! (as predicted). ]

Selama 17 tahun belakangan saya tergerak untuk menggali kembali, dan mengembangkan lebih dalam dan luas, riset kolosal David McClelland di Harvard di tahun 50-60an, "The Achieving Society (1961)" -- yang menunjukkan kaitan erat antara dongeng/buku anak-anak dengan kemajuan industri satu masyarakat/bangsa. Singkat kata, buku/dongeng di masa kecil itu membentuk karakter kita setelah dewasa (sebagai individu maupun secara kolektip).

Kalau dibalik, dalam konteks praxis social-engineering misalnya, kalau kita memang menginginkan generasi mendatang, 20-30 tahun y.a.d., adalah masyarakat dengan karakter yang unggul, sekarang ini banjirilah anak-anak kita dengan buku-buku, ceritalah kepada mereka dongeng-dongeng yang mengandung "pesan moral" yang unggul (e.g. courage, honor, love, loyalty, integrity, respect, ... etcetera.). Menelusuri children literature memberikan evidence bahwa bangsa yang "berhasil" saat ini sudah melakukan conditioning lewat buku/dongeng jauh sebelumnya.

Paling tidak pesan yang kita harapkan tertanam dalam benak dan kepribadian si anak nanti  bukanlah seperti pada dongeng kancil kita selama ini: nyolong, ngapusi, nyolong, ngapusi ... dan sang kancil itu dianggap sebagai "cerdas" bahkan sedikit heroik [bisa 'get away' dari hukuman/konsekwensi dari akibat perbuatan buruknya]


Nuwun,
Moko/

PS: Buat yang belum kenal, seperti pernah saya tulis di milis alumni ITB, saya ini juga anak-turun wong Solo, jadi waktu ditanya seorang ibu di Chicago, "Panjenengan punika aslinipun saking pundi?" -- karena yang tanya pakai bahasa halus saya tidak langsung bilang, "Gandrik! Aku ini anak-turune wong Solo," tetapi jawaban yang tidak kalah mlipisnya, "Bapak-Ibu saking Solo, lahir wonten Malang, menawi aslinipun ... asli Madison!"

Posted on milis itbsolo Apr 12, 2011
2:57 a

Jurus Mengosongkan Pikiran

Metaphor "empty cup" bukan berarti "nggak tahu apa2" -- karena sesungguhnya kita ini tidak bisa "melupakan" apa yang sudah kita pelajari, apa yang sudah kita ketahui. "Empty cup" dalam konteks ini lebih berarti "mengosongkan pikiran" [paling tidak untuk sementara] ... menghilangkan segala preconception -- conception formed in advance of adequate knowledge or experience, especially a prejudice or bias.

Sebetulnya ini tidak berbeda dengan attidude dasar dari science ... semua yang kita ketahui atau yakini sebagai "truth" itu bersifat adhoc (sementara), hanya berlaku sampai ada "truth baru" yang lebih baik, yang lebih menjelaskan. 
 
Kalau kita bersikukuh 'nggondeli' truth yang lama, yang kita yakini (mungkin sejak lahir), mana bisa kita menerima adanya truth yang baru ini. Akibatnya upaya untuk menemukan truth yang lebih baik ini mandeg ... kemajuan science stagnant [seperti terjadi di masyarakat kita, bahkan dikalangan kampus kita sendiri].

"Mengosongkan cawan" ini bukan barang mudah ... karena ini bertentangan dengan nature manusia (yang ingin hidup tentram bisa tidur nyenyak business as usual). Dalam ilmu psychology dikenal istilh "cognitive dissonance" [Leon Festinger, 1950an] dimna dijelaskan bahwa kalau ada dua atau lebih cognition yang bertentangan -- misalnya, truth lama vs truth baru, orang cenderung memilih yang lama (cari gampangnya) ketimbang truth baru (yang masih belum sepenuhnya dimengerti). 
 
Karena itulah sering kusinggung bahwa ini butuh keberanian yang luar biasa, bahkan untuk melakukan hal-hal yang "biasa" seperti mencoba ambil satu course di OCW-MIT itu [yang sampai hari inipun belum ada yang laporan telah melakukannya].

Dalam konteks fisika Newtonian, ini bisa dilihat sebagai "inertia"(kelembaman) yang sangat besar, yang tidak mudah dibelokkan/diubah begitu saja. Makin tua inertia ini makin besar (akumulatip) sehingga kita makin susah belajar hal-hal yang baru. Hal kelihatan jelas dalam urusan bahasa asing (salah satu observasiku dalam riset linguistik) -- yang bagi anak-anak di Cijengkol (3-10 tahun) adalah "a piece of cake" (dalam waktu yang sama aku memperkenalkan bahasa Inggris, Spanyol dan Perancis ... they just gobbled 'em up like it was a piece of cake :-)

"Truly wonderful, the mind of a child is."
-- Master Yoda, in Star War

____
Catatan: Buat para penggemar cerita silat, metafor ini dipakai oleh Chin Yung dalam cerita Sin-tiauw hiap-lu, dimana Siauw-liong-li dengan mudah mempelajari ilmu yang seharusnya sulit untuk dipelajari orang-orang yang "pintar/cerdas" ... ilmu memecah pikiran dari Ciu-pek-tong yang kuncinya terletak pada "hun-sim-ji-yong" (membagi perhatian untuk dua peranan). Justeru orang yang cerdik pandai, orang yang banyak berpikir dan suka berpikir, malahan sulit disuruh belajar ilmu silat ini. Siauw-liong-li meskipun cerdas, sejak kecil sudah terlatih untuk mengontrol emosinya, dengan "mengosongkan pikiran" yang menjadi dasar ajaran perguruannya di Kuburan Mayat Hidup.


Moko/

++++++++++

Kho Ping Ho vs Chin Yung



Ada perbedaan besar antara "corpus" (body of work) dari Kho Ping Ho dan Chin Yung [yang diterjemahkan/disadur oleh Boe Beng Tjoe (OKT brothers?) dan Gan K.L.]:
KPH adalah orang lokal, asli sini, tidak bisa baca huruf-huruf cina ... karena itulah ceritanya juga lokal, tepatnya imaginasi lokal; sedangkan BBT dan GKL bisa baca huruf cina, karena itu mampu menyadur cerita Chin Yung itu yang dilatarbelakangi sejarah Tiongkok [bandingkan dengan cerita SH Mintardja yang dilatarbelakangi "Babad Tanah Jawi"]. Karena itulah ...

Cerita Chin Yung lebih "kolosal," penuh dengan partiotisme bela negara, mengusir musuh bersama (penjajah Mongol), disamping dentingan pedang dan kesiurnya angin pukulan, dan tentu saja element roman-cinta "boy meets girls, boy gets girl, etc." Cerita-cerita Kho Ping Ho sendiri lebih mengandalkan hebatnya jurus-jurus silat dan filosofi Konfusius nya ... apalagi KPH itu memang demen kasih nasihat kiri-kanan.

Di kampungku dulu (Malang), buku wajib (canon) dari dunia kang-ouw adalah trilogi Chin Yung ini. Sebelum baca tiga buku ini orang belum bisa diterima sebagai anggota 'kay pang' kita [dengan kata lain, pengemis tak berkarung]. KPH dan yang lain memang tidak jelek-jelek amat, tetapi hanya CY yang punya "big picture' konstelasi sejarah dan politik Tiongkok yang menjadi latar belakang cerita silat tersebut [dunia kangpuw yang sebenarnya].

tabik,
Moko/

        Boe lim cie coen po to to liong
Hauw leng thian hee boh kam poet ciong
        Ie thian poet coet swee ie ceng hong

(Yang termulia dalam rimba persilatan golok mustika membunuh naga
Perintahnya dikolong langit tiada manusia yang berani tidak menurut
Ie thian tidak keluar siapa lagi yang mampu melawan ketajamannya?)

+++++

Perjalanan: Puisi Esthi TB

Karena suasana yang mendung, hujan, suara geluduk menderu, tercipta puisi ini :)
 
 
Perjalanan
Puisi Esthi TB
 
Setiap jengkal hidup adalah perjalanan
Kadang tidak selalu di atas karpet merah
Bisa dipenuhi onak dan duri
Yang menggores dada, tangan dan kaki
 
Setiap tarikan nafas adalah cerita
Kadang tidak selalu berakhir bahagia
Bisa diwarnai duka nestapa
Yang meninggalkan luka dalam di jiwa
 
Setiap jejak langkah adalah akhir
Dari perjalanan terdahulu
Setiap pandangan adalah awal
Dari masa depan yang baru
 
Wahai duka, wahai luka, wahai nestapa
Mengapa engkau enggan pergi
Erat beradu di dalam relung hati
Mengapa engkau tak enyah dari dunia
 
Perjalananku
Akankah berhenti di persimpangan baru
Dan kupilih arah terbaikku
Menuju kebahagiaan bersama Mu
 
--
Slipi 26 Oktober 2011,
Esthi T. Bhirawati - TF 83 ITB
 
 
 

Belajar Bowling dengan Ahlinya



Gampang, asal tahu caranya.

Jangan nembak pin, tapi nembak arrow. Ayunan jgn di ubah2. Saran saya, coba dulu berdiri persis di "dot" belakang no 2 dari kanan (tempat berdiri utk start bowling biasanya ada 7 dot warna hitam, depan belakang). Terus mulai melangkah utk lempar bola. Kalo kaki kiri nggak pas di blkg garis batas melempar. Tempat berdiri awal digeser, bisa maju bisa mundur, tergantung posisi akhir kaki kiri. Kalo saya, mundur kira2 3 cm dari dot no-2 tadi. Di lintasan, ada dua baris arrow. Lihat arrow yg agak jauh (bukan yg paling dekat). Tembak arrow no-2. Kalo persis kena pin no 1 (paling depan), itu sdh benar.

Pertahankan dan hapalkan. Kalo saya, nembak arrow no-2 dari kanan, setengah kayu kanannya (diantara dua arrow terdiri dari 5 jalur kayu). Saya nembak di tengah2 kayu kelima, sblh kanan arrow no-2. Dgn model langkah saya, model irama ayunan saya, kalo tdk sdg bad day, pasti kena pin no-1. Jatuh semua (strike) tergantung power dan sudut bola kena pin.

Kalo bola anda jatuhnya di kiri pin no-1, berarti arrow yg ditembak geser ke kanan dikit. Dan sebaliknya.

Trial and error terus, sampai ketemu pola baku. Saya nemu pola itu juga makan waktu lama.
Paling gampang, minta diajarin penjaga disitu. Bayar 25 ribu biasanya sdh senang. Tapi ngajarinnya bisa berbeda, nggak apa2. Ikutin aja. Ntar di improve sendiri. Kalo model saya, gabungan teori matematis dan stereo (dan mektek hehehe).

Selamat mencoba pren.

Bowling olahraga paling enak dan sportif. Semua orang bisa. Bisa mentertawakan diri sendiri dan orang lain tanpa bermaksud mengejek. Nampak spotif nya kalo kita strike or spare, selalu tosss. Maksudnya biar ketularan strike or spare.

Kita datang tanpa bawa apa2, semua tersedia disitu. Jadi pas lewatpun, dan tiba2 pingin bowling, jadilah.

@ri m76

Posted to milis @ Tue, 20 Dec 2011 01:31:09

Perspektif Lain Esemka

Temans

Ini saya kutipkan notes-FB yang saya tulis dan mendapat sambutan beragam dari yang membacanya, lumayan rame

Saya kutipkan disini, karena saya juga mengutip dari milis ini, pemikiran Bang Yusman SD soal 'esemka', juga karena ini soal 'industrialisasi' di Kota Solo.......mungkin di milis ini ada tambahan atau koreksi, dipersilahkan.

Monggo.....

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Antara Solo-Bandung dan Jakarta

Masyarakat kita tentunya juga terpengaruh media-media utama, menjadi masyarakat 'kagetan dan gumunan' (Jw : gampang terperanjat, gampang terpesona). Tentu dari falsafah Jawa, masyarakat yang demikian adalah masyarakat yang 'sakit'.

Puluhan tahun lalu, Prof Habibie, pernah meluncurkan tesis : kalau bangsa ini bisa bikin pesawat, maka sudah pasti bisa bikin apa saja. Nyatanya, bangsa ini, puluhan tahun lalu sudah bisa bikin 'pesawat-penumpang-komersial'. Lalu, mengapa pula kita begitu 'kaget dan gumun', ketika anak-anak SMK mempertontonkan 'hasil prakarya'nya dalam bentuk mobil dan pesawat 'capung'.

Kerinduankah pada kebanggaan nasional akan teknologi transportasi, sehingga ketika mendapat trigger dari Solo mobil 'esemka', munculah beberapa hasil prakarya siswa SMK, Jakarta Pesawat terbang, juga Bandung.

Di Solo tak kurang Walikotanya, mendorong kuat agar 'hasil prakarya' ini menjadi prototip 'mobil nasional', artinya dari 'hasil-prakarya' ini akan 'langsung' jadi komoditi industri, lengkap dengan siapnya PT SoloManufakturKreasi (swasta murnikah, swasta dan Pemkotkah?....saya belum dapat infonya, namun jelas apapun formatnya menyimpan segudang persoalan, salah satunya 'kepemilikan merek esemka itu sendiri, bukankah sampai dengan sebelum dipasangi AD-1 semua khan pake uang rakyat INDONESIA, lewat KEMENDIKBUD, lalu gimana 'ujug-ujug' jadi milik PT SMK????) sebagai Pemilik/Operator.

Tentu ketika menjadi komoditi-industri, berbagai sertifikasi harus dipunyai, agar konsumennya nanti 'terlindungi', dan ini...jalan panjang yang tidak mudah tentunya. Ada alternatif solusinya, seperti yang dituliskan oleh senior saya Mantan Menhub,Jusman SD, di akhir notes ini,dimana saya cuplik dari milis 'IA-ITB Solo'.

Lalu, tak terasa pula energi waktu dan pikiran pak Walikota tersedot banyak untuk mewujudkan industri-mobil di kota Solo. Diluar penghargaan saya yang setinggi-tinginya pada kreasi adik-adik siswa SMK akan mobil 'esemka', pilihan Pemkot untuk mendorong adanya industri (baca : pabrik) mobil di Kota Solo apa strategis? Lahannya? Amdalnya? Lha wong Industri Textile saja harus diluar kota Solo. Belum lagi soal 'multiplier effect' nya bagi kesejahteraan warga-Solo bagaimana?

Kalau hanya sekedar buat citra-kota, tentu tak strategis pula, lantaran Bandung dan Jakarta SMKnya toh sudah bisa bikin pesawat terbang. Belum lagi, ketika melihat bodi mobil itu, dimana letak 'kota solo'nya....istilah gaul-nya : 'ga kliatan solo-bangetnya'. Hitungan saya sih, citra kota Solo ga nambah secara signifikan dengan adanya pabrik mobil-nasional dikota ini. Citra Kota Solo sudah pada 'puncak'nya sekarang ini, dengan 'Ir Joko Widodo' sebagai ikonnya atawa 'mayor attribute brand'. Buktinya, banyak pihak yang ingin mengusungnya jadi Gubernur DKI [ jujur, kalau saya sih penginnya beliau jadi RI-1 2014-2024, hahaha......]. Iya toh?

Lebih 6(enam) tahun lalu, saya mendapat kewenangan dari pak Jokowi dalam  'meng- arrange' pertemuan beliau dan siswa SMA/K di Kota Solo secara bergiliran setiap bulan, guna ada komunikasi (saling pengertian) antara Pemkot dan Pihak sekolah. Dimana Pihak Sekolah memahami langkah-2 Pembangunan yang sedang dan akan dilakukan Pemkot Surakarta dan Pak Walikota mengerti dan memahami kendala dan potensi yang dimiliki Sekolah/siswa2nya.

Terus terang, seingat saya memang belum pernah 'mengajak' pak Walikota untuk datang ke SMK-Teknologi-, karena : pertama, lewat perusahaan (radio) yang saya pimpin waktu itu, saya ingin mencitrakan Solo yang 'feminin' layaknya 'putri Solo', sedangkan yang berbau 'mesin/teknologi' berkesan 'machoooo bangetttt'....kedua, terinspirasi dari ahli strategi Tiongkok kuna, Sun Zu, 'jangan naiki bukit yang diatasnya telah bertengger kompetitormu', dan belakangan ditulis oleh konsultan manajemen tingkat dunia sebagai 'blue ocean strategy'........ dimana kalo kita bicara 'teknologi', ingatan kita tentu pada kota Bandung (ITB-PT DI-PT INTI-PT KAI-PT PINDAD-PT Telkom) dan Surabaya (ITS-PT PAL), nah kalo urusan komputer/internet/multi-media (salah satu jalur 'ekonomi kreatif') Solo tertinggal lumayan jauhlah di banding 'kompetitor-bebuyutan'nya yakni Yogyakarta......oleh karena itu saya prioritaskan pak Jokowi untuk berkunjung ke SMK-Kesenian-Perhotelan-dan Ekonomi.

[ Kalau ga salah inget lagi, di SMKN-6 Ska, d/h SMEA (?), 6 tahun lalu bertemulah 'duo Joko' dibalik 'mobil esemka' itu. Pak Joko Widodo dan pak Joko Sutrisno - Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud (?). Karena waktu itu bertemu dalam konteks 'hospitality industries', maka 'duo Joko' itu saya sandingkan dengan 'bule Perancis' - GM hotel bintang-4 di jln slamet riyadi ]

Jadi singkatnya, meng-endorse 'mobil esemka' bagi Pemkot Surakarta saya kira bukan jalan mulus yang 'enak-kepenak' dan hasilnya 'ora mentes/ora kacek/ora tambah kondang' (Jw Solo : signifikan), lalu mengapa harus pol-pol-an dalam effort -nya, salah-salah malah jadi 'kontra produktif' bagi citra kota dan kesejahteraan warga Surakarta.

Mekaten atur kula, menawi wonten tutur ingkang kurang trapsila, nyuwun agunging pangaksami

Nuwun.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Matur nuwun kawigatosanipun

Salam saking Solo

PedhetWijaya

Posted to milis itbsolo @ Wed Jan 25, 2012 1:15 am